Ambon,Nusantaraharian.com-tengah suasana khidmat Safari Tadarus Al-Qur’an yang berlangsung di rumah kediaman almarhum Abd. Mukti Keliobas, mantan Bupati Seram Bagian Timur (SBT) Di Kompleks Gadihu Kota Ambon pada Minggu 08/03/2026, Irwan Patty Mantan Ketua Bappeda SBB sekaligus Ketua Umum PB Iksamuni yang telah lama terlibat dalam pembangunan daerah ini, merasa perlu untuk membuka suara terkait polemik yang tengah mengguncang masyarakat Maluku – khususnya wilayah Seram – tentang Proyek Strategis Nasional (PSN) Maluku Industrial Port (MIP).
“Bicara tentang MIP, sebenarnya banyak hal yang belum tersampaikan dengan jelas kepada publik,” ujar Irwan saat ditemui usai acara tadarus. Ia mengungkapkan bahwa setelah melakukan penelitian mendalam, menelusuri berbagai data sekunder, dan menggali cerita lengkap tentang proses kelahiran proyek ini, ia merasa perlu memberikan penjelasan yang komprehensif untuk mengurai kesalahpahaman yang melanda.
Cerita dimulai jauh sebelum Pilkada Gubernur Maluku tahun 2024 yang membawa pasangan Lawamena menjadi pemimpin daerah.
Irwan mengungkapkan bahwa nama “MIP” bukanlah sesuatu yang baru muncul setelah kepemimpinan baru tersebut. Sebenarnya, proyek ini awalnya dikenal dengan nama Maluku New Port (MNI), dan perubahan nama tersebut hanya sebatas perubahan nomenklatur dalam bidang keuangan. Artinya, proyek strategis nasional ini telah ada jauh sebelum masa kampanye dan pemilihan kepala daerah baru.
“Yang membuat masyarakat bingung adalah bahwa meskipun disebut sebagai PSN, pembiayaannya berasal dari Bank Dunia,” jelas Irwan.
Survei dan persiapan awal proyek ini telah dilakukan oleh lembaga keuangan internasional tersebut jauh sebelum tahun 2024. Gubernur HL dan Wakil Gubernur AV hanya melanjutkan apa yang sudah direncanakan sebelumnya, hanya dengan mengganti nama menjadi MIP. Inilah titik awal kesalahpahaman yang kemudian berkembang menjadi polemik besar, bahkan sampai mengarah pada ancaman teror ekonomi dan embargo ekonomi lokal yang membuat suasana menjadi tegang.
Irwan tidak menyembunyikan kekesalanannya terhadap pihak yang seharusnya menjelaskan hal ini kepada publik.
“Saya sangat menyangkan bahwa kepala Bappeda Provinsi Maluku terlambat memberikan klarifikasi – kalau tidak mau dikatakan sama sekali tidak pernah menjelaskan hal-hal penting ini kepada masyarakat,” ujarnya .
Menurutnya, kurangnya komunikasi yang jelas dari pihak terkait menjadi pemicu utama kesalahpahaman yang berkepanjangan.
Namun, di balik kesalahpahaman itu, terdapat niat baik yang sebenarnya dimiliki oleh Gubernur HendrikLewerissa. Irwan mengungkapkan bahwa gubernur tersebut sangat menginginkan lokasi MIP ditempatkan di wilayah Seram, tepatnya di Waisarisa, SBB.
Bahkan setelah terpilih sebagai gubernur, beliau secara pribadi datang ke Jakarta untuk menemui pihak Bank Dunia dengan tujuan memindahkan lokasi proyek ke sana.
Beliau juga telah melakukan pendekatan langsung dengan Tomi Winata, pemilik lahan di kawasan Waisarisa yang menjadi calon lokasi.
“Niat baik itu kemudian mungkin terlalu dipercaya oleh Wakil Gubernur,” cerita Irwan.
Akibatnya, pada saat Safari Ramadhan tahun lalu, Wagub memberikan pernyataan di lokasi seolah-olah keputusan pemindahan lokasi ke Waisarisa sudah pasti.
Pemerintah daerah bahkan telah berusaha mencari sumber pembiayaan alternatif untuk mewujudkan proyek di wilayah Seram, namun usaha tersebut terbentur pada kajian teknis dan finansial yang sudah dibuat oleh Bank Dunia, serta keterbatasan sumber keuangan lainnya padahal kecepatan pembangunan sangat dibutuhkan oleh daerah.
Tidak hanya mengurai polemik, Irwan juga memberikan saran konstruktif bagi pemerintah daerah provinsi Maluku dan khususnya Pemerintah Kabupaten SBB. Menurutnya, meskipun MIP mungkin tidak dapat ditempatkan di Waisarisa sesuai harapan, kawasan tersebut tidak boleh dibiarkan mati suri.
Ia menyarankan agar Waisarisa dihidupkan kembali dengan berbagai usaha produktif, seperti pabrik ikan kaleng, yang dapat memberikan dampak ekonomi multiplikator seperti pada masa lalu. Selain itu, perlu juga ditingkatkan kapasitas armada pelayaran serta fasilitas pelabuhan Waipirit dan pelabuhan Ferry Wailei.
“Saya melihat kondisi di lapangan – pedagang dan pengemudi truk sering harus menunggu lama karena tidak ada kapal feri kargo khusus untuk mengangkut barang,” jelas Irwan.
Banyak barang yang harus segera dijual, namun terhambat oleh keterbatasan sarana angkutan laut. Ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah agar nantinya ketika MIP beroperasi, ia dapat benar-benar tumbuh pesat dan memberikan dampak ekonomi yang dahsyat bagi seluruh wilayah Maluku.
Irwan juga memahami perasaan masyarakat Seram yang mengeluarkan protes. Menurutnya, protes tersebut muncul bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap lambatnya laju pembangunan ekonomi di daerah mereka. Masyarakat Seram telah melihat berbagai nama kawasan strategis muncul di daerah mereka mulai dari Karpet (Kawasan Ekonomi Terpadu) hingga KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) namun hingga saat ini belum memberikan hasil yang nyata bagi kehidupan mereka.
“Jadi wajar saja jika mereka merasa terusik dan khawatir bahwa MIP hanya akan menjadi nama kosong lagi,” ujarnya dengan empati.
Belakangan ini, Irwan juga mendapat kunjungan dari Tim Lapangan Kajian Strategis Kodam yang ingin memahami lebih dalam tentang proyek MIP. Ia menjelaskan dengan jujur bahwa proyek ini menggunakan pendekatan “the big push theory” sebuah konsep pembangunan yang mengedepankan skala besar agar dapat memberikan dorongan ekonomi yang kuat dan merata ke seluruh kawasan sekitarnya.
“Oleh karena itu, pemilihan lokasi harus sangat tepat agar daya ledak ekonominya dapat dirasakan secara maksimal,” jelasnya.
Di akhir penjelasannya, Irwan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersikap bijak dan memberikan kesempatan kepada Pemerintah Pusat serta Pemerintah Daerah Provinsi Maluku untuk menyelesaikan segala proses dan mewujudkan proyek strategis nasional ini.
“Kita semua berharap MIP dapat menjadi katalisator perubahan ekonomi bagi Maluku, terutama bagi rakyat Seram yang telah menunggu lama akan kemajuan,” tutupnya dengan harapan yang mendalam.(NH02)












