PIRU,Nusantaraharian.com – Acara pelantikan pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Seram Bagian Barat yang dijadikan alasan utama pembatalan dan penggeseran peringatan Hari Pendidikan Nasional dari jadwal resmi pemerintah pusat, ternyata berlangsung dengan tata cara yang sangat memalukan, asal-asalan, dan penuh kesalahan fatal.
Bukan hanya meremehkan nilai-nilai agama, kelalaian penyelenggara dari lingkungan Pemda SBB ini juga dianggap telah sengaja atau tidak sengaja mencoreng nama baik dan wibawa seorang tokoh besar perdamaian Maluku, Prof. Jhon Ruhulesyn. Kemarahan dan kekecewaan terdalam ini dilontarkan secara keras dan terbuka oleh Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Seram Bagian Barat, Syuaib Pattimura.
Baginya, apa yang terjadi di Ruang Sidang Lantai III Kantor Bupati, Sabtu (2/5/2026), bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan bentuk ketidaksopanan yang parah dan bukti nyata betapa rendahnya penghargaan pemerintah daerah terhadap nilai luhur yang dianut masyarakat.
“Kami diundang secara resmi, bukan untuk sekadar hadir, melainkan untuk memanjatkan doa. Dalam adat dan kebiasaan kita, doa adalah hal yang paling utama, yang diletakkan di awal untuk memohon berkah atau di akhir sebagai penutup yang menyempurnakan acara. Tapi apa yang terjadi di sana? Doa kami disisipkan di posisi yang tidak jelas, dijadikan penutup lubang, di mana-mana seolah-olah doa itu barang sampah atau sekadar hiasan yang bisa ditaruh di mana saja sesuka hati panitia. Ini penghinaan yang sangat besar terhadap agama dan Tuhan Yang Maha Kuasa,” tegas Syuaib dengan nada tinggi dan penuh emosi.
Padahal, lanjutnya, acara tersebut dipimpin langsung oleh Ketua PMI Provinsi Maluku, Prof. Jhon Ruhulesyn seorang figur yang namanya harum dikenal luas sebagai tokoh sentral perdamaian Maluku, pemersatu umat, dan sosok yang sangat dihormati seantero nusantara. Beliau hadir membawa nama besar, wibawa, dan reputasi yang dibangun dengan susah payah selama puluhan tahun demi kedamaian dan kemanusiaan. Namun, karena kelalaian dan ketidakmampuan panitia penyelenggara yang merupakan staf di bawah komando Pemkab SBB, momen agung itu justru berubah menjadi aib.
“Sangat disayangkan, sangat menyedihkan dan sangat memalukan! Seorang tokoh besar seperti Prof. Jhon Ruhulesyn, yang namanya menjadi kebanggaan seluruh rakyat Maluku, harus tercoreng nama baiknya hanya karena panitia di kantor bupati tidak paham adab dan sopan santun. Beliau diposisikan memimpin acara yang tata caranya berantakan, yang memperlakukan hal sakral dengan seenaknya. Ini sama artinya dengan merendahkan martabat beliau. Bagaimana rasanya seorang tokoh perdamaian harus memimpin acara yang justru menyinggung perasaan umat beragama? Ini kesalahan fatal yang tidak bisa dimaafkan,” seru Syuaib.
Syuaib mengingatkan, PMI adalah organisasi kemanusiaan yang kedudukannya diatur Undang-Undang, yang sejatinya dibangun di atas semangat tolong-menolong dan nilai kemanusiaan universal. Nilai kemanusiaan ini sumbernya adalah nilai agama. Jadi, mustahil rasanya organisasi ini bisa berjalan baik jika dalam penyelenggaraan acaranya saja sudah mencederai akar dari nilai itu sendiri.
“PMI mengaku organisasi kemanusiaan, tapi dalam praktiknya mereka menginjak-injak nilai agama yang merupakan induk dari kemanusiaan itu sendiri. Apalagi acara ini dipusatkan untuk melantik istri Bupati sebagai Ketua Dewan Kehormatan. Kalau untuk acara yang dianggap ‘paling penting’ sampai-sampai mengalahkan Hari Pendidikan Nasional saja penanganannya sembarangan begini, apa lagi urusan rakyat biasa?” sindirnya tajam. Syuaib menuduh bahwa kelalaian ini menunjukkan sikap arogan dari penyelenggara.
Dengan menempatkan doa di posisi yang tidak semestinya, pihak protokol Setda seolah ingin berkata bahwa urusan agama itu tidak penting, urusan seremonial pejabatlah yang nomor satu. Akibatnya, bukan hanya umat beragama yang sakit hati, namun nama besar tokoh perdamaian pun harus tertimpa kesialan akibat ketidakbecusan kerja birokrasi di Seram Bagian Barat.
“Ini teguran keras. Jangan pernah menganggap enteng hal-hal yang sakral. Dan jangan pernah meremehkan dampak dari tata acara yang buruk, karena yang jatuh bukan hanya nama panitia, tapi nama orang-orang besar yang hadir dan memimpinnya. Kami minta penjelasan resmi dan permintaan maaf yang layak, baik kepada umat beragama maupun kepada Prof. Jhon Ruhulesyn yang telah dinodai nama baiknya di daerah ini,” pungkas Syuaib.
Hingga berita ini diturunkan, tidak ada penjelasan apa pun dari pihak Sekretariat Daerah Kabupaten Seram Bagian Barat terkait kekisruhan dan kekecewaan yang meluas ini.(NH02)












