Piru, Nusantaraharian.com – Kasus penyalahgunaan wewenang yang melibatkan istri Bupati Seram Bagian Barat, Ny. Yeni Rosbayani Asri, menuai kemarahan dan kecaman tajam dari Dr. Natanel Elake.
Akademisi Universitas Pattimura yang sekaligus menjadi salah satu tokoh utama yang berjuang mengantarkan daerah ini menjadi kabupaten otonom itu tak bisa menahan kekecewaannya.
Baginya, apa yang terjadi bukan sekadar pelanggaran aturan, melainkan penghinaan langsung terhadap perjuangan, martabat, dan seluruh warga Seram Bagian Barat.
Dalam pernyataannya yang menusuk dan tak bertele-tele, ia menegaskan bahwa perbuatan yang terjadi telah merusak apa yang telah dibangun dengan keringat dan air mata selama bertahun-tahun.
“Jika apa yang terungkap ke permukaan ini benar adanya, maka selaku orang asli SBB yang ikut berjuang, berkorban, dan melahirkan daerah ini, SAYA MENGUTUK DENGAN SEKERAS-KERASNYA sikap arogan dan tindakan sewenang-wenang itu. Saya bicara terus terang tanpa basa-basi: Maaf saya katakan begini, Ibu Ketua PKK, kami rakyat Seram Bagian Barat INI BUKAN ORANG BODOH.” Ujar Elake
Kami tidak bisa diatur sesuka hati, tidak bisa diperlakukan seenaknya, dan tidak bisa diinjak-injak harga dirinya. Perbuatan Anda memerintah aparat negara yang bukan wewenang Anda, memaksa pejabat meninggalkan tugasnya, bahkan memperlakukannya Secara Brutal, itu artinya ANDA MENGHINA KAMI SEMUA.
Anda merusak tata pemerintahan yang kami bangun dengan susah payah, seolah-olah jabatan dan kekuasaan ini milik keluarga Anda semata, padahal itu adalah amanah suci dari rakyat.
Kepada Sekretaris Daerah Leverne Tuasuun: JANGAN BERSEMBUNYI DI BALIK KEBISUAN. Ketahuilah, jauh lebih mulia bagi Anda untuk bicara jujur dan siap kehilangan jabatan, daripada diam seribu bahasa hanya demi mempertahankan kedudukan, tapi akhirnya jatuh juga karena ikut menutupi kesalahan orang lain.
Ingat hukum alam: apa yang ditabur, itulah yang akan dituai. Tidak ada jabatan yang kekal di dunia ini, semuanya akan berakhir. Tapi yang abadi, yang dibawa sampai ke liang kubur, dan yang diingat orang selamanya adalah nama baik, kehormatan, dan kesaksian bahwa kita pernah berani bersikap benar.
Dan kepada Bupati Asri selaku pemimpin daerah: SADARILAH BATASAN DIRI. Batasi peran istri Anda pada tempatnya cukup di rumah, cukup mengurus urusan keluarga, dan jika ada tugas kemasyarakatan, cukup jalankan fungsi Ketua PKK sesuai aturan yang ada. Jangan biarkan keinginan pribadi atau campur tangan pihak yang tak berwenang merusak nama baik dan masa depan daerah yang kami perjuangkan bertahun-tahun lamanya.
Anda memimpin untuk melayani rakyat, bukan untuk membiarkan lingkungan sekitar Anda bertindak seolah tak ada hukum dan aturan yang berlaku di bumi ini. Seram Bagian Barat lahir dari perjuangan panjang, dari pengorbanan banyak orang, dan dari harapan besar agar kami bisa mengatur rumah tangga sendiri dengan bersih dan adil. Jangan sampai harapan itu HANCUR LEBUR hanya karena kesewenang-wenangan segelintir orang. Kami tidak akan tinggal diam melihat daerah yang kami lahirkan ini diinjak-injak. Rakyat punya mata untuk melihat, punya hati untuk menilai, dan punya kuasa untuk memutuskan.
Dr. Natanel Elake menegaskan dengan tegas bahwa pemerintahan bukanlah milik pribadi atau milik keluarga penguasa. Ia juga mengingatkan agar jangan pernah tertipu oleh gambaran indah yang ditampilkan di depan publik, karena sering kali apa yang terlihat tidak mewakili kenyataan pahit yang terjadi di balik layar kekuasaan.
“Jangan pernah berpikir karena memegang jabatan, maka segalanya boleh dilakukan. Ingat: kekuasaan itu hanya sementara, tapi dampak dari perbuatan itu akan dibawa seumur hidup,” tegasnya menutup pernyataan yang menyentuh hati seluruh warga.
Tanggapan ini menjadi sorotan utama, karena datang langsung dari orang yang memiliki andil besar dalam sejarah berdirinya Kabupaten Seram Bagian Barat. Kata-katanya bukan sekadar kritik, melainkan suara hati dari orang yang melihat mimpi dan perjuangannya terancam rusak oleh tindakan segelintir orang. (NH01)












