Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Saadiah Uluputty Soroti Tantangan Generasi Hedonis di Tengah Perkembangan Teknologi

  • Bagikan

Ambon,Nusantaraharian.com-Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Saadiah Uluputty, ST, menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat di Maluku. Acara yang dirangkaikan dengan diskusi tentang kondisi generasi hedonis perkotaan di era digital berlangsung di Kantor DPW PKS Maluku, Ambon, pada hari Selasa 9 Desember 2025.

Hadir dalam kegiatan tersebut kader PKS Kota Ambon, pemuda, mahasiswa, tokoh masyarakat, serta perwakilan berbagai organisasi kepemudaan. Dalam paparannya, Saadiah menekankan bahwa tantangan yang dihadapi bangsa saat ini tidak hanya berkaitan dengan keamanan wilayah, tetapi lebih pada pembentukan karakter dan nilai hidup generasi muda di tengah kemajuan teknologi digital yang pesat.

“Teknologi adalah keniscayaan, tetapi tanpa nilai kebangsaan, teknologi justru bisa menjauhkan generasi muda dari jati dirinya. Kita mulai melihat gejala gaya hidup hedonis, konsumtif, dan instan yang perlahan mengikis semangat kebersamaan dan kepedulian sosial,” jelas Saadiah.

Menurutnya, Empat Pilar Kebangsaan – Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sebagai landasan hukum, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai prinsip persatuan – harus menjadi fondasi moral dalam menyikapi perkembangan teknologi. Nilai-nilai tersebut diperlukan untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cakap dalam memanfaatkan teknologi, tetapi juga berakar pada etika, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

Saadiah juga menyoroti fenomena di kalangan generasi perkotaan yang semakin akrab dengan media sosial, namun seringkali kehilangan kedekatan dengan realitas sosial di sekitarnya. Ia mengingatkan bahwa makna demokrasi tidak boleh hanya terbatas pada ekspresi di ruang digital semata, melainkan harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata di masyarakat.

“Demokrasi yang sehat tidak lahir dari budaya pamer dan pengakuan semu di media sosial. Demokrasi yang substansial lahir dari kesadaran, kerja keras, dan keberpihakan pada kepentingan orang banyak,” tegasnya.

Diskusi yang berlangsung secara interaktif menghadirkan berbagai pandangan peserta terkait dampak teknologi terhadap pola pikir generasi muda. Topik pembahasan mencakup perubahan gaya hidup, dinamika relasi sosial, hingga tantangan dalam membangun karakter di tengah arus informasi yang sangat cepat. Saadiah menyambut baik dinamika tersebut dan menilai bahwa ruang dialog seperti ini penting untuk menyelaraskan nilai kebangsaan dengan realitas zaman sekarang.

Melalui kegiatan ini, Saadiah berharap generasi muda, termasuk di wilayah Seram Bagian Barat, mampu menjadi generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kekuatan nilai, karakter yang kuat, serta kepedulian terhadap masa depan bangsa.

“Kemajuan teknologi harus sejalan dengan kematangan karakter. Inilah tugas kita bersama, menjaga Indonesia tetap berkeadaban di tengah perubahan zaman,” pungkasnya.(NH01)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *