Huamual,Nusantaraharian.com – Suasana memanas dan berpotensi ricuh terjadi di wilayah Dusun Laala, Desa Lokki, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Sebanyak 50 orang perwakilan dari Pemerintah Negeri Luhu, yang terdiri dari Raja, Tokoh Adat dari 12 Marga, dan Tokoh Masyarakat, melakukan aksi damai penolakan keras terhadap aktivitas pertambangan nikel yang dilakukan oleh PT. Manusela Prima Mining (MPM).

Rombongan ini berangkat menggunakan transportasi laut dari Piru setelah sebelumnya melakukan pertemuan dan menyampaikan pernyataan sikap resmi yang diterima langsung oleh Wakil Bupati SBB, Selfinus Kainama.
Setelah tiba di daratan, rombongan sempat beristirahat di kediaman Kepala Dusun Laala, Bapak Ahmat Rumain, sebelum kemudian bergerak menuju lokasi Gunung Pengoboran yang menjadi lokasi aktivitas pemboran dan pengambilan sampel nikel (Lateritik Nickel Ore) milik PT MPM.

Tepat pada Senin, 06 April 2026 pukul 14.00 WIT, aksi damai resmi digelar. Dipimpin langsung oleh Raja Negeri Luhu, massa memasang spanduk besar yang menjadi bukti klaim wilayah mereka.
“PEMBERITAHUAN!
ATAS NAMA KEPALA-KEPALA SOA DAN 12 MARGA YANG MENGATAS NAMAKAN MASYARAKAT NEGERI LUHU MELARANG KERAS KEPADA PT. MANUSELA PRIMA MINING.UNTUK TIDAK BOLEH MELAKUKAN KEGIATAN PENGAMBILAN SAMPEL NIKEL TERMASUK EKSPLOITASI MAUPUN EKSPLORASI DI TANAH ULAYAT NEGERI LUHU DI WILAYAH LAALA DAN SEKITARNYA TANPA SE-IZIN KEPALA-KEPALA SOA DAN 12 MARGA ATAS NAMA MASYARAKAT NEGERI LUHU.”
Mereka menuntut agar perusahaan menghentikan segala bentuk kegiatan pemboran dan pengambilan sampel karena dianggap tidak memiliki kesepakatan resmi dengan masyarakat adat setempat dan dianggap melanggar hak ulayat yang telah ada sejak masa Kerajaan Huamual.
Situasi berubah menjadi tidak kondusif usai aksi pemalangan selesai dilakukan. Ketika rombongan Pemerintah dan Masyarakat Negeri Luhu berjalan kaki menuju Kampung Laala untuk mengambil transportasi dan kembali ke wilayah mereka, terjadi insiden yang membahayakan.

Sesampainya di pemukiman Kampung Laala, sekelompok pemuda asal Desa Lokki muncul dan melakukan protes keras terhadap klaim tersebut. Terdengar teriakan kata-kata provokasi seperti “Galojo” dan saling memaki antar kedua kelompok.
Situasi semakin panas ketika terjadi adu mulut yang berujung pada saling kejar-mengejar. Beruntung, aparat keamanan baik Polisi maupun TNI yang berada di lokasi bertindak sigap dan cepat melakukan pengamanan sehingga bentrokan fisik dapat dicegah dan situasi berhasil diredam.

Setelah memastikan rombongan dari Negeri Luhu naik kapal dan meninggalkan pantai menuju wilayah mereka, sekelompok pemuda dan masyarakat Desa Lokki kembali bergerak menuju lokasi tambang.
Dalam aksi lanjutan tersebut, mereka melepaskan atau menurunkan spanduk pemalangan yang sebelumnya dipasang oleh pihak Negeri Luhu sebagai bentuk pernyataan sikap yang berlawanan dan penolakan tegas terhadap klaim wilayah tersebut.

Berdasarkan pantauan tim media di lokasi, setelah kejadian tersebut, para pemuda dan masyarakat Desa Lokki perlahan membubarkan diri dan kembali ke desa masing-masing dalam kondisi yang sudah aman dan terkendali.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan maupun Pemerintah Daerah terkait langkah selanjutnya untuk menyelesaikan konflik kepentingan dan sengketa wilayah historis ini. (NH01)












