Ambon,Nusantaraharian.com-dinamika geopolitik Timur Tengah yang semakin memanas, sikap para pemimpin dan wakil rakyat Indonesia menjadi sorotan tajam. Faisal Lohy, dalam Tulisannya yang di ungga di akun Facebook-nya , mengkritik keras sikap anggota DPR RI dari fraksi PDIP dapil Maluku yang dinilai tidak seimbang dalam merespons konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Lohy menegaskan bahwa anggota DPR tersebut hanya berani mengutuk Iran, namun tidak memiliki keberanian untuk mengecam Amerika dan Israel yang dianggapnya sebagai pihak yang memulai serangan dan menjadi sumber utama kegaduhan geopolitik dunia. Menurutnya, sikap ini membela pelaku kejahatan kemanusiaan dan seolah menormalkan agresi serta pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh Amerika dan Israel.
Terkait tindakan Iran yang memblokade sebagian Selat Hormuz, Lohy memberikan penjelasan yang berbeda dari narasi yang mungkin beredar. Ia menyatakan bahwa blokade tersebut tidak menutup seluruh jalur selat, melainkan hanya pada wilayah teritorial Iran. Tindakan ini, menurutnya, merupakan bentuk balasan terhadap Amerika dan negara-negara pendukungnya, terutama negara-negara Arab Teluk yang menyediakan pangkalan militer bagi Amerika untuk melancarkan serangan ke Iran. Iran juga diklaim hanya menargetkan kapal-kapal yang berasal dari negara-negara mitra pendukung Amerika, bukan secara acak.
Salah satu poin penting yang diluruskan oleh Lohy adalah mengenai insiden kapal yang melibatkan warga negara Indonesia (WNI). Ia menegaskan bahwa kapal yang dirudal oleh Iran bukanlah kapal Indonesia, melainkan kapal asal Uni Emirat Arab (UEA) bernama Musaffah 2. Meskipun terdapat 3 WNI di antara awak kapal tersebut, tindakan Iran tidak dilakukan secara sengaja untuk menyerang kapal Indonesia atau membunuh WNI. Tindakan ini dianggap sebagai balasan karena UEA menyediakan pangkalan militer bagi Amerika yang digunakan sebagai pusat komando operasi militer terhadap Iran.
Dari perspektif hukum internasional, Lohy berpendapat bahwa Amerika telah melanggar Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB, sementara tindakan Iran merupakan bentuk pembelaan diri yang diizinkan oleh Pasal 51 Piagam PBB. Namun, ia mengkritik bahwa PBB dan negara-negara anggotanya, termasuk Indonesia, justru membela Amerika dan menyudutkan Iran tanpa memberikan respon tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Amerika.
Lohy menutup opininya dengan pertanyaan yang menantang, mengapa anggota DPR RI tersebut memilih untuk mengutuk Iran dan mendiamkan Amerika serta Israel, padahal arus informasi sudah sangat transparan. Apakah hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang geopolitik atau merupakan bagian dari garis politik yang diambil oleh PDIP dan DPR RI?
Perlu diingat bahwa tulisan ini merupakan rangkuman dari satu opini saja. Konflik di Timur Tengah sangat kompleks dan memiliki berbagai sudut pandang. Penting untuk mencari informasi dari berbagai sumber yang terpercaya untuk memahami secara menyeluruh permasalahan ini dan membentuk pendapat yang terinformasi dengan baik.(NH/Red)












