Sumatera Barat,Nusantaraharian.com – Hujan lebat yang tak berhenti mengguyur langit Sumatera Barat sejak pagi tak menghalangi Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, S.T., tiba di Bandara Minangkabau pada hari Sabtu (10/12/2025).
Kunjungan reses ini menjadi bukti kesungguhan beliau untuk melihat langsung kondisi daerah yang tengah dilanda bencana besar. Pesawatnya berhasil mendarat dengan aman meskipun landasan pacu licin dan tergenang – sesuatu yang tidak dialami beberapa pesawat lain yang terpaksa pindah ke Bengkulu karena cuaca ekstrem.
Di bandara, Saadiah dan rombongan langsung disambut oleh Bupati Padang Pariaman John Kennedy Azis dan Wali Kota Padang. Suasana langsung memanas ketika Bupati Padang Pariaman harus menahan tangis saat menceritakan betapa parahnya kerusakan di wilayahnya.
“Padang Pariaman seolah-olah kembali ke masa 20 tahun yang lalu. Infrastruktur hancur, warga terkurung, jembatan putus semua,” katanya dengan suara bergetar.
Longsor, banjir bandang, dan kerusakan akses vital telah membuat pelayanan publik lumpuh dan merenggut banyak nyawa. Beberapa jenazah bahkan harus diangkut dengan helikopter karena lokasi terisolir yang tak bisa dicapai mobil.
Dalam rapat bersama Pemerintah Provinsi, Gubernur Mahyeldi mengungkapkan bahwa terdapat 914 titik kerusakan infrastruktur di Sumbar – menjadikannya provinsi dengan kerusakan paling luas di seluruh Sumatera.
“Bencana ini membawa kesedihan yang dalam, banyak rumah dan akses publik hancur. Kami butuh tanggapan cepat,” tegas Gubernur.
Setelah mendengar laporan para pemimpin daerah, Saadiah menyatakan bahwa kemampuan pemerintah daerah sudah mencapai batas. Beliau menegaskan bahwa bencana di Sumbar telah memenuhi semua syarat untuk mendapatkan Status Bencana Alam Nasional, sesuai UU 24/2007 dan PP 21/2021.
“Status nasional akan membuka pintu bagi keterlibatan penuh pemerintah pusat – BNPB, TNI, Polri, Basarnas, PUPR, Kemenhub – agar rehabilitasi dan rekonstruksi bisa cepat berjalan,” jelas Saadiah.
Setelah rapat, rombongan berangkat ke Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar. Di sana, Saadiah melihat langsung jalan yang putus, sungai yang meluap akibat debit air tinggi dari hulu, dan puluhan titik longsor yang menutup akses.
Jalan tol lintas Sumatera bahkan tak ada kendaraan sama sekali karena sudah lumpuh total. Bagi Saadiah, kunjungan ini bukan sekadar tugas formal, melainkan tanggung jawab moral negara.
“Semua elemen negara harus hadir tanpa tersia-sia. Sumbar harus bangkit lebih kuat dan siap menghadapi bencana nanti,” tegasnya.(NH/Red)












